Text
Manusia Bebas
Harapan Sulastri hilang. Hatinya pedih menerima kenyataan bahwa naskah yang ditulisnya ditolak oleh Balai Pustaka. Rasa malu, marah, dan sedih bergemuruh di dalam hatinya. Dalam kekalahannya ia berbisik di atas kertas yang kosong, "inspirasi, datanglah kemari. Tidak, tidak, kehidupanku sendiri harus menjadi inspirasiku. Aku hanya mengenangkan, aku harus mengenangkannya." Dengan segera kenangan-kenangan menjadi barisan kalimat dalam sehelai kertas.
Sulastri alias Suwarsih Djojopuspito menuliskan segala kenangan di antara tahun 1933-1937 dalam novelnya berjudul Buiten Het Gareel. Karyanya ini pertama kali diterbitkan di Belanda pada tahun 1940. Barulah pada tahun 1975 buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan tajuk Manusia Bebas. Karya ini merupakan roman pertama yang dituliskan oleh seseorang berkebangsaan Indonesia dalam bahasa Belanda. Serupa, tetapi tak sama dengan Kartini, Suwarsih mengabadikan perjuangan dan lika-likunya menggunakan pena yang sudut pandang utamanya dari seorang perempuan.
Tidak tersedia versi lain